Bagikan melalui :
Ketika semua orang dalam perusahaan fokus
pada pengembangan maka terjadi pengembangan yang diharapkan. Fokus menentukan
hasil. Tentu saja semua diawali dengan disain pelatihan pengembangan yang
diprakarsai oleh team HR. Fokus menciptakan budaya belajar melalui learning
organization maka yang akan diciptakan adalah pengembangan kinerja, bisnis dan
perusahaan.
HR yang telah lakukan identifikasi
kebutuhan pelatihan dan menyusun materi dalam program Active Learning
Management System (LMS), maka akan terjadi pembelajaran secara e-learning.
Dimana model pembelajaran melalui Learning Management System (LMS) mudah
digunakan, mudah dilakukan penyesuaian dan mudah ditambahkan sesuai dengan
kebutuhan.
Di awal tentunya kerja keras HR dalam
lakukan identifikasi kebutuhan, mengevaluasi disain materi yang telah dibuat,
memberikan masukan-masukan yang diperlukan untuk semua area jabatan mulai dari
karyawan hingga level leader yang ditetapkan sebagai sasaran pelatihan.
Setelah HR menyeleaikan tugas untuk
mengidentifikasi dan mendisain pelatihan, maka melalui Learning Management
System (LMS), maka pekerjaan pengembangan telah diatur untuk semua level dan
semua bagian di perusahaan. HR dapat bekerja lebih tenang karena tugas yang
diharapkan untuk pengembangan telah dilakukan. Model Active Learning Management
System (LMS) dapat digunakan untuk seluruh karyawan, dan karyawan baru juga
akan mengikuti prosedur pengembangan yang ditetapkan. Team HR fokus pada
pengembangan.
Bagaimana dengan karyawan? Karyawan fokus
untuk membentuk sikap belajar melalui penugasan dalam program Active Learning
Management System (LMS). Mereka diharapkan mampu menyelesaikan target penugasan
belajarnya. Kita sadari bersama bahwa sumber perbaikan adalah masalah,
penyimpangan, kesalahan, complain pelanggan, usulan perbaikan dan belajar dari
praktek terbaik (benchmark). Karyawan yang telah menyelesaikan penugasannya,
tentu telah tahu macam penyimpangan, macam kasus yang dibahas dalam program Active
Learning. Pengulangan untuk mampu menyelesaikan penugasan belajar membuat
karyawan menjadi hafal, bahkan tumbuh pemahamannya. Dengan cara kerja ini maka
karyawan juga fokus pada pengembangan.
Leader juga mendapatkan penugasan belajar
yang disusun sesuai kebutuhan. Tak cukup dengan pengerjaan materi pada program Active
Learning management system, leader perlu juga melakukan serangkaian Latihan dan
praktek. Karena tanpa Latihan dan praktek, sulit bagi leader untuk meningkatkan
ketrampilan leadershipnya. Pengetahuan tak mengubah kebiasaan. Latihan yang
membentuk peserta latih mengalami kemajuan. Leader juga fokus pada
pengembangan.
Ketika semua eksponen perusahaan fokus pada
pengembangan, sudah selesaikah tugas pengembangan? BELUM. HR masih memiliki
tugas untuk mengukur dampak pelatihan melalui Active Learning Management System
(LMS). Dalam mengukur HR perlu menetapkan macam perbaikan yang menjadi
prioritas dan tentunya ini disesuaikan dengan materi apa yang diberikan
penugasan awal.
Ketika hasil pengukuran masih perlu
ditingkatkan maka HR melakukan identifikasi macam kasus atau penyimpangan yang masih
terjadi atau identifikasi kebutuhan pengembangan lainnya yang diperlukan. Dalam
evaluasi, perlu juga dilakukan analisa peran leader dalam menjalankan penugasan
praktek yang diberikan. Umumnya leader yang kurang dalam menjalankan penugasan
praktek akan mendapatkan hasil perbaikan yang lebih rendah disbanding dengan
lainnya. Bukti bahwa umpan balik sangat dibutuhkan dalam proses perbaikan.
Semua fokus pengembangan, terjadilah apa
yang diperjuangkan dengan kesungguhan oleh seluruh tim perusahaan, bahwa mereka
berjuang demi perbaikan nasib. Konsekuensi ini juga perlu diatur dalam strategi
dan kebijakan SDM. Sehingga semua orang yang menunjukkan performance tentu
mendapatkan lebih. Dan yang tertinggal akan tersingkirkan. Pay for performance.
Salam improvement
Bila bermanfaat, bagikan melalui :